Bitcoin Pulih Mendekati $79.000, Zcash Cetak Aset ETF Lebih dari $500 Juta

Kointech.info – Harga Bitcoin kembali menunjukkan pemulihan setelah mengalami tekanan pada perdagangan Selasa. Aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar tersebut sempat jatuh hingga mendekati level $77.600 sebelum akhirnya mendapatkan dorongan dari pembeli dan kembali bergerak menuju area $79.000.

Berdasarkan data CoinDesk, Bitcoin sempat diperdagangkan di sekitar $77.666 pada Selasa. Namun, pada Rabu pagi waktu Asia, harga BTC telah kembali mendekati $78.900. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual yang muncul sebelumnya belum mampu mengubah struktur perdagangan Bitcoin secara signifikan.

Dalam periode 24 jam, pergerakan Bitcoin relatif datar karena sebagian besar penurunan berhasil dipulihkan. Sementara itu, jika dilihat dalam periode satu minggu, Bitcoin masih mencatatkan kenaikan tipis kurang dari 2%.

Pergerakan harga tersebut terjadi ketika investor kripto masih mencermati berbagai faktor makroekonomi, terutama data inflasi Amerika Serikat dan keputusan suku bunga Federal Reserve atau The Fed yang akan datang.

Dengan demikian, sentimen terhadap Bitcoin saat ini tidak hanya ditentukan oleh perkembangan industri kripto. Kondisi pasar keuangan global, arah suku bunga, imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta ekspektasi investor terhadap kebijakan moneter juga menjadi faktor penting yang memengaruhi harga BTC.

Zcash Justru Mencuri Perhatian Investor

Ketika Bitcoin bergerak relatif terbatas, perhatian pasar beralih kepada Zcash atau ZEC. Dalam sepekan terakhir, harga Zcash tercatat mengalami kenaikan sekitar 43%, menjadikannya salah satu aset kripto dengan performa paling menonjol di antara aset digital utama.

Penguatan Zcash juga mendapatkan perhatian setelah produk ETF Zcash milik Grayscale mencatat pertumbuhan aset kelolaan yang signifikan. Grayscale menyampaikan bahwa ETF Zcash miliknya telah melewati nilai aset sebesar $500 juta hanya sekitar dua minggu setelah mulai tercatat di NYSE Arca.

Produk tersebut diperdagangkan menggunakan kode ZCSH. Berdasarkan informasi dari Grayscale, dana tersebut telah mencatatkan lebih dari $70 juta aliran dana masuk secara kumulatif sejak debut pada 25 Agustus. Angka tersebut berada di atas investasi awal senilai $100 juta yang berasal dari DCG International Investments.

Pertumbuhan tersebut menjadi indikator bahwa minat investor terhadap produk investasi berbasis Zcash mulai meningkat. Kehadiran ETF memberikan jalur investasi yang lebih mudah bagi investor tradisional yang ingin mendapatkan eksposur terhadap ZEC tanpa harus membeli dan menyimpan token secara langsung.

Baca Juga: XRP hingga Solana Menguat, Dogecoin Naik 1,26% Hari Ini

ETF Zcash Grayscale Kini Memegang Lebih dari 550.000 ZEC

Grayscale mengungkapkan bahwa ETF Zcash tersebut kini memiliki lebih dari 550.000 ZEC. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 3% dari total pasokan Zcash yang beredar, yang diperkirakan mencapai 16,9 juta token.

Besarnya jumlah ZEC yang dimiliki ETF menjadi perkembangan penting bagi pasar Zcash. Jika aset tersebut tetap berada di dalam produk investasi, sebagian besar token tersebut secara efektif tidak aktif diperdagangkan di pasar terbuka dalam jangka pendek.

Situasi tersebut berpotensi memberikan pengaruh terhadap dinamika pasokan dan permintaan ZEC. Ketika permintaan meningkat sementara jumlah token yang tersedia untuk diperdagangkan relatif terbatas, tekanan terhadap harga dapat semakin besar.

Namun, investor tetap perlu melihat perkembangan tersebut secara hati-hati. Pertumbuhan aset ETF tidak secara otomatis berarti harga ZEC akan terus naik. Pergerakan harga tetap dipengaruhi oleh kondisi pasar kripto secara keseluruhan, sentimen investor, likuiditas, serta perubahan kondisi makroekonomi global.

Harga ZEC Menembus $1.180

Sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap ETF Zcash, harga ZEC juga mencatatkan kenaikan. Pada perdagangan hari tersebut, Zcash diperdagangkan di atas $1.180 atau naik lebih dari 4%.

Volume perdagangan ZEC dalam 24 jam berada di sekitar $1 miliar. Dengan kapitalisasi pasar sekitar $20 miliar, Zcash berhasil menempati posisi sekitar peringkat ke-10 sebagai aset kripto terbesar berdasarkan nilai pasar.

Kenaikan tersebut memperlihatkan adanya momentum yang cukup kuat pada ZEC. Selain faktor teknikal dan sentimen pasar, minat terhadap ETF Zcash menjadi salah satu katalis yang ikut memperkuat narasi investasi terhadap aset yang dikenal memiliki fokus pada privasi tersebut.

Baca juga  Aplikasi Crypto Laptop Terbaik untuk Trading Nyaman

Kondisi ini berbeda dengan Bitcoin yang cenderung bergerak sideways dalam rentang tertentu. Perbedaan performa tersebut menunjukkan bahwa arus modal di pasar cryptocurrency tidak selalu bergerak seragam ke seluruh aset digital.

Bagaimana Pergerakan Altcoin Utama?

Selain Bitcoin dan Zcash, sejumlah aset kripto utama lainnya juga mengalami pergerakan yang relatif terbatas.

BNB menjadi salah satu aset yang mencatatkan kinerja positif. Harga BNB berada di sekitar $755 dan mengalami kenaikan hampir 2%. Sementara itu, Tron atau TRX naik lebih dari 1% ke kisaran $0,34.

XRP juga bergerak menguat sekitar 1% dan berada di sekitar $1,42. Di sisi lain, Ethereum atau Ether relatif stabil di sekitar $2.490, sedangkan Solana diperdagangkan di kisaran $103.

Dogecoin masih berada di sekitar $0,09. Sementara itu, token HYPE yang terkait dengan ekosistem Hyperliquid mengalami kenaikan tipis dan bergerak mendekati $86.

Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar cryptocurrency berada di sekitar $2,8 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa pasar aset digital masih berada dalam kondisi dengan nilai yang sangat besar, meskipun pergerakan harga sejumlah aset utama cenderung terbatas.

Pasar Kripto Masih Sensitif terhadap Kondisi Makroekonomi

Salah satu faktor utama yang membentuk pergerakan Bitcoin saat ini adalah kondisi makroekonomi Amerika Serikat.

Harga minyak mentah Brent bergerak mendekati $100 per barel setelah meningkatnya ketegangan geopolitik. Serangan Amerika Serikat terhadap kapal tanker Iran di dekat Pulau Kharg dilaporkan memicu respons rudal, sementara serangan kelompok Houthi terhadap kapasitas penyulingan Arab Saudi turut menambah kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Kenaikan harga minyak dapat memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi. Jika inflasi kembali meningkat, bank sentral berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama atau bahkan mengambil langkah yang lebih agresif.

Situasi tersebut penting bagi Bitcoin karena aset digital masih sangat sensitif terhadap perubahan likuiditas global. Ketika suku bunga tinggi, aset berisiko seperti saham teknologi dan cryptocurrency dapat menghadapi tekanan karena investor memiliki alternatif investasi dengan tingkat pengembalian yang relatif menarik melalui instrumen berpendapatan tetap.

Imbal Hasil Treasury AS Menjadi Perhatian

Selain minyak, pasar juga memantau pergerakan imbal hasil Treasury Amerika Serikat.

Imbal hasil Treasury 10 tahun berada di sekitar 4,8%, sedangkan imbal hasil Treasury 2 tahun masih berada di atas 4,3%. Tingginya yield tersebut mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter dan kondisi inflasi Amerika Serikat.

Menurut CME FedWatch, para pedagang memperkirakan probabilitas sekitar 60% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya.

Ekspektasi tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang membatasi kenaikan Bitcoin. Ketika pasar memperkirakan suku bunga tetap tinggi, investor cenderung lebih berhati-hati dalam menambah eksposur terhadap aset berisiko.

Karena itu, pergerakan Bitcoin dalam beberapa hari ke depan kemungkinan akan sangat dipengaruhi oleh data ekonomi AS dan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.

Data PPI dan CPI Menjadi Katalis Penting untuk Bitcoin

Dua data ekonomi yang menjadi perhatian besar investor adalah Producer Price Index atau PPI dan Consumer Price Index atau CPI.

Data PPI dijadwalkan menjadi salah satu informasi penting yang diperhatikan pasar pada Kamis. Setelah itu, data CPI akan dirilis pada Jumat. Investor akan mencermati terutama perkembangan inflasi inti.

Inflasi inti diperkirakan melunak menjadi sekitar 2,4%. Jika data yang dirilis sesuai atau lebih rendah dari ekspektasi, pasar dapat menilai tekanan inflasi mulai mereda. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Sebaliknya, apabila inflasi lebih tinggi dari perkiraan, investor dapat meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan ketat lebih lama.

Inilah sebabnya mengapa Bitcoin saat ini tidak hanya diperdagangkan berdasarkan berita atau perkembangan spesifik industri cryptocurrency. Data ekonomi makro justru dapat menjadi katalis utama bagi pergerakan BTC dalam jangka pendek.

Level $75.000 dan $82.000 Menjadi Area Penting Bitcoin

Jasper De Maere, trader OTC di Wintermute, mengatakan bahwa pergerakan harga Bitcoin saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga dibandingkan faktor yang secara spesifik berkaitan dengan industri kripto.

Baca juga  Kenapa Harga Kripto Melemah Hari Ini? Ini Penyebabnya

Menurutnya, pasar berpotensi menghadapi volatilitas tambahan menjelang akhir pekan karena beberapa data ekonomi penting akan dirilis sebelum keputusan suku bunga Federal Reserve.

Dalam kondisi tersebut, area $75.000 dan $82.000 menjadi dua level penting yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar menjelang pertemuan FOMC pada 15-16 September.

Jika Bitcoin mampu bertahan di atas area support dan kembali menembus resistance di sekitar $82.000, sentimen bullish berpotensi semakin kuat. Sebaliknya, penurunan menuju area $75.000 dapat meningkatkan tekanan jual dan membuka ruang bagi koreksi yang lebih dalam.

Investor sebaiknya memperhatikan level-level tersebut bukan sebagai kepastian arah harga, melainkan sebagai area yang dapat membantu membaca perubahan momentum pasar.

ETF Bitcoin Kembali Mencatatkan Aliran Dana Masuk

Di tengah pergerakan harga Bitcoin yang cenderung sideways, produk ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat justru menunjukkan perkembangan positif.

ETF Bitcoin spot mencatatkan sekitar $1 miliar aliran dana masuk pada pekan sebelumnya. Dengan demikian, produk investasi tersebut telah mencatatkan minggu ketiga berturut-turut dengan arus dana masuk.

BlackRock menjadi salah satu pemain utama melalui produk ETF Bitcoin miliknya, IBIT. Produk tersebut dilaporkan memiliki sekitar $101 miliar aset bersih.

Arus dana masuk yang konsisten ke ETF Bitcoin dapat menjadi indikator bahwa investor institusional dan investor tradisional masih memiliki minat terhadap Bitcoin.

Namun, aliran dana ke ETF tidak selalu langsung menghasilkan kenaikan harga secara linear. Kondisi pasar derivatif, aksi ambil untung, arus dana antarproduk, dan sentimen makroekonomi tetap dapat memengaruhi harga BTC dalam jangka pendek.

Lebih dari 71% Pasokan Bitcoin Berada dalam Posisi Untung

Tantangan lain bagi Bitcoin datang dari kondisi on-chain. Saat ini, lebih dari 71% pasokan Bitcoin berada dalam posisi keuntungan.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan sekitar 67% ketika Bitcoin berada pada level harga yang sebanding pada Mei lalu.

Tingginya persentase pasokan yang berada dalam posisi profit dapat menciptakan potensi tekanan jual. Pemegang Bitcoin yang telah memperoleh keuntungan dapat memilih untuk merealisasikan profit ketika harga mendekati resistance atau level tertinggi dalam suatu rentang perdagangan.

Hal ini dapat menjelaskan mengapa Bitcoin menghadapi gesekan ketika mencoba bergerak lebih tinggi di area atas rentang $77.200 hingga $82.100.

Semakin banyak investor yang berada dalam posisi untung, semakin besar pula potensi pasokan Bitcoin yang dapat masuk ke pasar ketika harga mengalami kenaikan.

Baca Juga: Rekomendasi Kripto 2 September 2026: SUI, WLD, ONDO

Prospek Bitcoin dan Zcash Selanjutnya

Pergerakan Bitcoin dan Zcash menunjukkan dua cerita berbeda di pasar cryptocurrency saat ini.

Bitcoin masih menjadi aset digital utama yang pergerakannya sangat dipengaruhi oleh kondisi likuiditas, suku bunga, data inflasi, serta sentimen investor institusional. Pemulihan BTC menuju $79.000 menunjukkan adanya minat beli setelah penurunan ke sekitar $77.666, tetapi belum cukup untuk memastikan bahwa tren kenaikan yang lebih kuat telah dimulai.

Di sisi lain, Zcash sedang mendapatkan momentum dari meningkatnya perhatian terhadap produk ETF. Aset kelolaan ZCSH yang menembus $500 juta dan kepemilikan lebih dari 550.000 ZEC menjadi perkembangan penting bagi ekosistem Zcash.

Meski demikian, pasar tetap harus mempertimbangkan risiko volatilitas. Harga aset kripto dapat berubah secara cepat, terutama ketika berhadapan dengan data ekonomi penting dan keputusan bank sentral.

Bagi Bitcoin, level $75.000 dan $82.000 menjadi area yang patut dipantau menjelang FOMC 15-16 September. Sementara bagi Zcash, perkembangan aliran dana ETF, pertumbuhan aset kelolaan, dan kemampuan ZEC mempertahankan momentum akan menjadi faktor penting untuk melihat apakah reli saat ini dapat berlanjut.

Pada akhirnya, arah pasar kripto dalam jangka pendek kemungkinan akan ditentukan oleh kombinasi antara arus dana ETF, kondisi on-chain, sentimen terhadap aset berisiko, serta kebijakan moneter Amerika Serikat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *